JAM TAMBAHAN AUDIT SERTIFIKASI IATF 16949 

JAM TAMBAHAN AUDIT SERTIFIKASI IATF 16949 

Untuk mendukung metodologi penghitungan hari audit berbasis risiko, IATF telah memutuskan agar lembaga sertifikasi memfokuskan lebih banyak waktu pada masalah kinerja yang menimbulkan risiko bagi pelanggan, untuk mendukung persyaratan Peraturan IATF Edisi Selengkapnya »

IATF 16949 MENCAKUP SEMUA SUKU CADANG SERVIS/PENGGANTI

IATF 16949 MENCAKUP SEMUA SUKU CADANG SERVIS/PENGGANTI

Artikel ini menjelaskan terkait perubahan ketentuan perusahaan yang bisa disertifikasi IATF 16949., kami pernah juga memberikan link tulisan yang hampir sama terkait part after market yang manufaktur(pabrik)nya bisa disertifikasi IATF 16949, baca Selengkapnya »

ALASAN DAN KETENTUAN SPECIAL AUDIT SISTEM IATF 16949

ALASAN DAN KETENTUAN SPECIAL AUDIT SISTEM IATF 16949

Lembaga sertifikasi melakukan SPECIAL AUDIT terhadap klien yang disertifikasi untuk: untuk menyelidiki keluhan kinerja sebagai respons terhadap perubahan sistem manajemen mutu klien perubahan signifikan di situs klien; akibat sertifikat yang ditangguhkan untuk Selengkapnya »

BAGAIMANA KOMPETENSI AUDITOR IATF 16949 DARI BADAN SERTIFIKASI KITA?

BAGAIMANA KOMPETENSI AUDITOR IATF 16949 DARI BADAN SERTIFIKASI KITA?

Artikel ini respon dari perubahan Rules for achieving and maintaining IATF Recognition IATF Rules 5th Edition yang nantinya akan menjadi edisi ke-6 Di point perubahan  Rules for achieving and maintaining IATF Recognition IATF Selengkapnya »

INTERNAL AUDIT KURANG PAS KALAU BELUM MENGACU KE ISO 19011,

INTERNAL AUDIT KURANG PAS KALAU BELUM MENGACU KE ISO 19011,

Di pasal 7.23 IATF 16949 tentang Kompetensi Internal Auditor, dinyatakan bahwa HARUS ada proses yang terdokumentasi untuk memverifikasi kompetensi auditor, kemudian dinyatakan lagi lihat ISO 19011. Pertanyaannya bentuk Dokumen yang sesuai referensi Selengkapnya »

PART AFTER MARKET KINI MASUK RUANG LINGKUP SISTEM IATF 16949

PART AFTER MARKET KINI MASUK RUANG LINGKUP SISTEM IATF 16949

The IATF decided to modify the eligibility requirements to include all service/replacement parts. Sebelumnya dalam tulisan kami di link https://www.improvementqhse.com/7-tips-untuk-siap-mempunyai-sistem-iatf-16949/, menyatakan bahwa jenis produk untuk sistem IATF 16949 bukan termasuk SPARE PART, Selengkapnya »

UPDATE CSR GM – PENGALAMAN PIHAK LAIN ADALAH GURU YANG PALING BAIK

UPDATE CSR GM – PENGALAMAN PIHAK LAIN ADALAH GURU YANG PALING BAIK

Mengenai apakah dan konsep CSR, bisa dilihat di link ini: https://www.improvementqhse.com/customer-requirement-cr-dan-customer-specific-requiement-csr-2/ Ketika ada CSR yang berubah, misalkan dari General Motor, pasti perubahan ini disebabkan suatu hal dan tujuannya memperbaiki sistem yang saat Selengkapnya »

BAGAIMANA ASPEK KOMPETENSI BISA BIKIN GAGAL AUDIT?

BAGAIMANA ASPEK KOMPETENSI BISA BIKIN GAGAL AUDIT?

Pembahasan ini diambil dari SI 7.2.1 Automotive Certification Scheme for IATF 16949 Perlu ditetapkan dan dijalankan cara mengidentifikasi pelatihan dan Kesadaran dan pencapaian kompetensi semua pekerja, terutama yang langsung mempengaruhi persyaratan produk dan Selengkapnya »

PAHAMI 4 DOKUMEN (MANUAL) INI DULU DARIPADA GAGAL SERTIFIKASI IATF 16949

PAHAMI 4 DOKUMEN (MANUAL) INI DULU DARIPADA GAGAL SERTIFIKASI IATF 16949

1 RULES FOR ACHIEVING AND MAINTAINING IATF RECOGNITION Beberapa waktu lalu ada calon client kami, yang membuat part untuk kendaraan, dan ingin mendapatkan sertifikasi IATF 16949, kami saat itu diundang untuk presentasi Selengkapnya »

MEMBUAT CONTINGENCY YANG EFEKTIF

MEMBUAT CONTINGENCY YANG EFEKTIF

MEMBUAT CONTINGENCY YANG EFEKTIF PERTANYAAN dari FAQ tentang Contingency Plan (https://www.iatfglobaloversight.org/wp/wp-content/uploads/2022/05/IATF-16949-FAQs_May-2022.pdf) Apa langkah kunci untuk mengembangkan Contingency Plan yang efektif?   JAWAB Perusahaan diharuskan untuk menunjukkan bahwa ia telah dikembangkan dan diimplementasikan Selengkapnya »

 

4 HAL DALAM KEGIATAN HIGIENE INDUSTRI

Berikut akan dipaparkan empat hal yang terdapat dalam penerapan higiene industri, yaitu antisipasi, rekognisi, evaluasi dan kontrol.

 1. Antisipasi

Kesulitan dan kompleksitas dalam mengontrol bahaya kesehatan sangat besar sehingga kita perlu melakukan antisipasi masalah apa yang akan terjadi sebelum industri, proses atau produk diperkenalkan. Bila kita terlambat menemukan adanya bahaya, maka biaya untuk memperbaikinya sangat mahal, baik secara teknologi maupun secara ekonomis untuk terus melanjutkan proses. Sehingga masalah yang potensial perlu diantisipasi sebelum komitmen besar dibuat. Tambahan tugas untuk ahli higiene industri ini akan terasa sangat berat untuk para pemula atau ahli higiene industri yang belum memiliki pengalaman.

Secara sederhana antisipasi dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan oleh seorang ahli higiene industri untuk memprediksi atau melakukan perkiraan-perkiraan terhadap kemungkinan potensi bahaya kesehatan yang ada di tempat kerja. Antisipasi sebaiknya dilakukan pada tahap awal. Tahap awal dapat berarti awal dari suatu proses atau industri berjalan, atau bisa juga diartikan sebagai awal dari suatu proses yang sudah mendapatkan modifikasi atau perubahan untuk dijalankan kembali. Antisipasi pada dasarnya bertumpu pada informasi yang tersedia sehubungan dengan potensi bahaya yang akan kita prediksi. Antisipasi dapat dilakukan dengan cara mempelajari dokumen-dokumen yang terkait dengan suatu proses yang akan diprediksi potensi bahayanya, atau bisa langsung dengan melakukan observasi di lapangan. Pengalaman dari perusahaan lain yang sejenis juga dapat dijadikan sebagai perbandingan tentang potensi bahaya yang muncul terhadap suatu kegiatan operasi.

Pada kenyataannya antisipasi dilaksanakan bersamaan dengan pada saat seorang ahli higiene industri melakukan rekognisi terhadap potensi bahaya kesehatan di lingkungan kerja. Namun antisipasi sifatnya lebih pada perkiraan atau prediksi terhadap kemungkinan potensi bahaya kesehatan yang akan muncul dari suatu kegiatan.

 2. Rekognisi

Batasan antara antisipasi dan rekognisi seringkali tidak jelas. Ada yang membedakan antisipasi dan rekognisi berdasarkan apakah situasi yang sedang diteliti tersebut benar-benar ada. Jika situasi tersebut masih dalam tahap konsep, maka proses yang dilaksanakan dikatakan sebagai antisipasi. Sehingga dianggap bahwa dalam fase rekognisi, situasi tersebut telah ada. Pembedaan ini dikatakan tidak jelas karena antisipasi bahaya dapat dilaksanakan pada fasilitas yang telah ada dan rekognisi bahaya dapat dilakukan ketika fasilitasnya masih dalam tahap rencana.

Kapanpun ini dilakukan, rekognisi bahaya kesehatan biasanya memerlukan aplikasi dari informasi yang telah ada seperti elemen-elemen pajanan, karakteristik respon toksik, dan lain-lain. Rekognisi potensi bahaya atau bahaya yang ada dapat dilakukan bila seseorang telah mengenal dengan baik proses-proses, menyusun dan memelihara inventarisasi agen fisik, kimia dan biologi yang dihasilkan, mengkaji ulang aktivitas pekerjaan yang berbeda di tempat kerja dan mempelajari metode pengendalian yang telah ada. Dari informasi tersebut kita mendapatkan karakterisasi dari tempat kerja. Bisa saja didasarkan pada workplace/ tempat kerja (lingkungan fisik), workforce (pekerja) atau agent (agen kimiawi, fisik atau bilogis). Bila melakukan penelitian terhadap populasi yang besar, karakterisasi yang umum digunakan adalah ‘grup pajanan/ exposure group’ (misalnya pekerja yang memiliki kesamaan dalam profil pajanan). Apakah hal ini terjadi dalam antisipasi atau rekognisi bahaya, prosesnya biasanya diarahkan sebagai risk assessment/ pengkajian risiko. Pengkajian risiko dalam hal ini, biasanya menghasilkan perkiraan toksisitas dari bahan kimia dan atau pajanan yang akan datang. Jika bahan kimia yang dimaksud adalah bahan kimia yang baru atau tidak lazim, kemungkinan hanya sedikit data toksikologi yang tersedia. Mungkin perlu dilakukan tes awal atau memperkirakan toksisitasnya dari aktivitas konstituennya atau dianalogikan ke zat lain.

Pada dasarnya rekognisi atau pengenalan bahaya dapat diartikan sebagai upaya atau langkah untuk mengetahui dan mengenali potensi bahaya kesehatan yang ada di tempat kerja. Upaya untuk mengenali ini bisa dilakukan dengan mempelajari informasi yang ada tentang suatu proses atau kegiatan, atau bisa juga dengan melakukan pengukuran keberadaan bahaya kesehatan yang diduga terdapat di lingkungan kerja. Sehingga dapat dikatakan bahwa upaya rekognisi mirip dengan identifikasi potensi bahaya di tempat kerja yang sedikit lebih mendalam karena disertai dengan beberapa informasi yang lebih detil dari bahaya tersebut yang mungkin diperoleh dari hasil pengukuran.

Beberapa metode rekognisi yang dipelajari dalam higiene industri adalah sebagai berikut:

  • Laporan Kecelakaan atau Cidera

Dalam rangka melakukan rekognisi bahaya yang menyebabkan cidera traumatis, studi laporan kecelakaan atau cidera dapat digunakan. Data statistik dari laporan-laporan tersebut dapat mengindikasikan area dari pabrik atau proses mana yang menimbulkan banyak kasus kecelakaan atau cidera. Sebagai tambahan, analisis laporan kecelakaan dan cidera yang lengkap dapat menunjukkan metode apa yang digunakan oleh pekerja yang meningkatkan risiko dari kecelakaan. Memang benar bahwa menuliskan laporan kecelakaan secara lengkap ibaratnya seperti menutup pintu kandang ayam setelah ayamnya dicuri. Namun, dalam beberapa kasus setelah data terkumpul kita dapat melakukan identifikasi bahaya yang mungkin tidak terlihat.

  1. Pemeriksaan Kesehatan Fisik

Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja yang dilengkapi dengan pemeriksaan kesehatan secara periodik dapat membantu mengidentifikasi kondisi kronis yang disebabkan kareana kontak dengan bahaya di tempat kerja. Sebagai contoh, bila sejumlah pekerja memperlihatkan adanya pergeseran daya dengar pada frekuensi 4000-6000 Hz antara pemeriksaan audiometri sebelum bekerja dengan pemeriksaan periodik, maka patut dipertimbagkan adanya pajanan kebisingan sebagai penyebab potensial. Kemudian perlu ditentukan jika mungkin ada faktor-faktor lain yang ada diantara para pekerja yang mengalami pergeseran daya dengar, seperti bekerja di lokasi yang sama, bekerja pada shift yang sama, dan lain-lain. Seperti halnya metode sebelumnya, metode ini adalah metode rekognisi setelah kejadian terjadi. Tentunya akan lebih baik bila kebisingan diidentifikasi sebelumnya. Namun, identifikasi adanya pergeseran daya dengar mengindikasikan masalah yang mungkin tidak dikenali.

  • Employee Notification

Dalam beberapa kasus, pekerja dapat mengidentifikasi adanya bahaya kesehatan dan keselamatan sebelum direkognisi oleh personel pabrik yang lain. Dengan suasana manajemen yang benar, pekerja akan membawa masalah ini untuk menjadi perhatian bagi petugas yang berwenang untuk menyelesaikan masalah ini. Kontribusi dari pekerja ini dapat distimulasi dengan cara berhenti sebentar untuk berbicara dengan para pekerja seputar kondisi kesehatan dan keselamatan, selama pabrik berjalan normal.

  • Required Inspection

Beberapa peralatan dijadwalkan untuk diinspeksi. Inspeksi yang diperlukan ini dapat memperlihatkan adanya masalah sebelum masalah ini menjadi bahaya kesehatan maupun keselamatan pada pekerja. Sebagai contoh, boiler harus diinspeksi secara periodik oleh inspektor negara. Jika hasil dari inspeksi ini diserahkan kepada staf keselamatan dan kesehatan kerja, mereka bisa memberikan informasi yang berguna untuk menghilangkan bahaya potensial tersebut.

  • Kajian literatur dan diskusi dengan profesional lain

Ini merupakan tanggung jawab profesional untuk selalu mengikuti perubahan yang terjadi dalam bidang keselamatan dan kesehatan kerja. Ini bisa dilakukan dengan melakukan kajian secara periodik terhadap keilmuan yang terkait seperti menghadiri meeting dan training dimana masalah-masalah individu akan dibahas dengan profesional yang lain. Hal ini juga sangat berharga untuk memelihara hubungan dengan profesional yang bekerja pada organisasi lain sehingga begitu ada masalah, tambahan informasi dan pengalaman dapat kita peroleh. Sering kali masalah yang dihadapi pernah dialami oleh orang lain di lapangan. Kesulitannya adalah menemukan seseorang yang mengalami masalah yang sama dan berhasil mengatasinya.

  • Walk-Through Inspection

Metode rekognisi bahaya ini telah banyak dilakukan di lapangan. Namun, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, metode ini memerlukan pengalaman sebagai alat yang efektif dalam mengenali adanya bahaya yang potensial. Kita harus waspada akan adanya berbagai macam bahaya  yang dapat dikenali bila kita berjalan ke pabrik. Sebagai tambahan, tidak semua bahaya yang potensial dapat dikenali selama kita melakukan walk-through inspection. Walk-through inspection bukan metode yang dapat menemukan semua bahaya.

  • Sampling and Spot Inspection

Meskipun metode ini seringkali terbatas hanya untuk studi kualitas udara, metode ini juga dapat digunakan untuk mengenali adanya bahaya lain. Masalahnya adalah menentukan metode statistik yang menjamin sampling yang cukup dan seleksi yang tepat dalam memilih lokasi inspeksi. Dengan metode tertentu, kita dapat menghemat waktu secara signifikan.

  • Pre-liminary Hazard Analysis

Analisis awal terhadap bahaya seharusnya dilakukan sebelum studi yang panjang terhadap bahaya yang potensial. Analisis awal terhadap bahaya memerlukan pengaturan logis fakta yang sekarang diketahui untuk menentukan variabel-variabel yang akan dimasukkan ke dalam studi dan metode yang digunakan untuk menentukan apakah ada bahaya. Pendekatan ini berharga dalam melakukan investigasi terhadap operasi yang baru atau modifikasi untuk menentukkan apakah bahaya yang potensial telah diperkenalkan ke dalam sistem.

  • Review of process flow

Seringkali satu-satunya cara untuk mengidentifikasi bahaya kimia dan kualitas udara adalah dengan mereview proses yang berjalan untuk menetukan dimana reaksi terjadi dan apakah produk peralihan (intermediate) dan produk akhir yang dihasilkan. Pendekatan yang sama dapat digunakan untuk mengidentifikasi bahaya mekanis dan peralatan listrik dimana review ditujukan untuk kontak pekerja yang potensial dengan peralatan bergerak, stres ergonomi, dan pajanan termal.

  • Fault-Tree Analysis

Menggunakan metode fault-tree analysis (FTA), berarti menciptakan suatu model probabilitas kejadian yang sistematis. Dengan menerapkan FTA, mungkin ditentukan kemungkinan suatu kejadian akan terjadi dan memberikan serangkaian kejadian yang menyebabkan kajedian ini terjadi. Meskipun biasanya teknik ini digunakan dalam anlisis keselamatan, pendekatan ini juga menjadi alat yang berguna untuk ahli higiene industri dalam mengenali bahaya kesehatan yang potensial.

  • Critical Incident Technique

Menggunakan Critical Incident Technique, beberapa pekerja dari lokasi yang ditentukan diinterview untuk menentukan penerapan tidak aman atau kesalahan yang telah terjadi selama mereka bekerja. Kejadian kritis ini dikategorikan dan menghasilkan daftar yang sistematis tentang lokasi dimana bahaya potensial ada dan harus dikontrol.

  • Failure Mode and Effect

Teknik dimana kegagalan suatu komponen atau elemen dari suatu sistem dianggap terjadi, dan akibat dari kegagalan pada komponen atau elemen sistem akan ditentukan. Teknik ini membantu untuk menentukan kemungkinan kegagalan kecil yang bisa menyebabkan bencana yang besar.

  • Job Safety Analysis

Dengan menggunakan teknik ini, setiap pekerjaan di uraikan menjadi beberapa tugas yang harus dilakukan dan elemen apa yang diperlukan untuk melaksanakan tugas tersebut. Setiap tugas dan elemen direview untuk menentukan apakah ada pajanan bahaya kepada pekerja. Bila pajanan bahaya ini ada, tindakan harus diambil untuk memodifikasi apakah prosedurnya, peralatan yang digunakan atau perlindungan yang diberikan kepada pekerja untuk menghilangkan pajanan.

 

3. Evaluasi

Arti dari evaluasi adalah pengujian dan memutuskan jumlah, derajat, signifikansi, nilai atau kondisi sesuatu dan boleh jadi menggunakan lebih banyak seni dalam implementasinya dan menggunakan lebih dari tanggung jawab ahli higiene industri lainnya. Keterampilan kunci dalam evaluasi adalah observasi/ peninjauan dan memutuskan, dimana keduanya dikembangkan dan diperoleh dari pendidikan atau pengalaman yang tahunan. Aplikasi subjektif dari pengalaman seseorang ini digunakan bersamaan dengan pengukuran objektif untuk menentukan besaran stres tertentu (particular stress). Semua bagian dari informasi kemudian dianalisa, disintesa dan diuji signifikansinya. Memutuskan, yang juga lahir dari pengalaman, diterapkan untuk menentukan  arti dari penemuan-penemuan dalam rangka mendapatkan keputusan yang tepat dan formula rekomendasi yang berarti. Semua proses ini dikatakan sebagai evaluasi.

Pada tahun-tahun pertama profesi higiene industri, evaluasi diarahkan pada ‘dangerous trades/ niaga berbahaya’ dimana munculnya agen stres dan penyakit di tempat kerja. Belakangan ini, higiene industri meliputi semua tempat kerja, termasuk isu-isu yang tak terlihat secara nyata seperti kualitas udara ruangan (indoor air quality) di perkantoran, masalah gerakan jari berulang-ulang pada keyboard, dan manajemen operasi limbah berbahaya. Tujuan utama dari evaluasi adalah untuk menentukan besaran dan signifikansi dari bahaya-bahaya kesehatan, diistilahkan secara umum adalah tidak adanya kesejahteraan (absence of well-being). Kompleksitas, macam-macam dan karakteristik variable dari lingkungan kerja modern menambah sulitnya proses evaluasi. Mungkin ada pajanan gas, uap atau aerosol, agen biologis, kebisingan, radiasi pengion atau bukan pengion, temperatur ekstrim atau bahaya fisik dan stres psikologis yang ada dalam bentuk faktor ergonomis interaksi antara manusia dan mesin. Evaluasi bahaya kesehatan di tempat kerja meliputi pengukuran pajanan (dan pajanan potensial), membandingkan pajanan dengan standar yang ada dan merekomendasikan program pengendalian bila diperlukan.

Teknik pengukuran pajanan

Teknik pengukuran ini didasarkan pada sifat bahaya dan jalur kontak dengan pekerja, seperti:

  1. Sampling udara dapat memperlihatkan konsnetrasi kontaminan udara yang beracun yang mungkin terhirup oleh pekerja.
  2. Menghapus kulit untuk mengukur derajat kontak antara kulit dengan material beracun yang mungkin penetrasi melalui kulit.
  3. Rekaman noise dosimeter dan pengukuran kebisingan elektronik yang terintegrasi untuk melihat pajanan bising sehari penuh.

 

Beberapa hal yang penting dalam teknik pengukuran pajanan:

  1. Pemilihan dan kalibrasi instrumen.
  2. Menyiapkan metode analisa yang tepat.
  3. Strategi sampling dan pengukuran.

Interpretasi hasil penemuan

Hal terpenting dalam pengambilan keputusan adalah interpretasi dan pelaporan hasil pengukuran. Investigator harus memiliki fakta-fakta berikut:

  1. Sifat dari zat atau agent
  2. Intensitas atau konsentrasi pajanan.
  3. Durasi pajanan.

Keputusan ahli higiene industri apakah bahaya itu ada didasarkan pada 3 sumber  informasi:

  1. Literatur ilmiah dan berbagai panduan batasan pajanan.
  2. Syarat legal dari peraturan Keselamatan dan Kesehatan kerja.
  3. Interaksi dengan profesional kesehatan lain yang meneliti pekerja yang terpajan dan status kesehatannya.

Batas pajanan di tempat kerja mengacu pada kondisi dimana konentrasi kontaminan udara yang dianggap bahwa hampir semua pekerja terpajan berulang-ulang, hari demi hari, tanpa menimbulkan efek kesehatan yang merugikan. Hal ini didasari oleh informasi pengalaman industri, percobaan terhadap manusia dan binatang, atau kombinasi ketiganya.

 

Batas pajanan yang direkomendasikan

Banyak standar direkomendasikan oleh negara-negara yang berbeda dan agensi internasional. Yang paling terkenal dan komprehensif adalah daftar Threshold Limit Values (TLV) untuk bahan kimia dan fisik dan Biological Exposure Indices (BEIs) yang dipublikasikan oleh American Conference of Governmental Industrial Hygienist (ACGIH).

 

Tiga kategori TLV adalah:

  1. Time-Weighted Average (TWA): Pajanan rata-rata terhadap pekerja dalam waktu 8 jam kerja per hari atau 40 jam per minggunya, dimana hampir semua pekerja terpajan, hari demi hari, tanpa menimbulkan efek kesehatan yang merugikan
  2. Short-Term Exposure Limit (STEL): Konsentrasi maksimal dimana pekerja dapat terpajan pada konsnetrasi ini dalam kurun waktu sampai 15 menit secara kontinyu tanpa mengalami: iritasi, perubahan jaringan yang kronis atau tidak dapat balik (irreversible), narkosis yang meningkatkan kemungkinan terjadinya cidera atau secara material mengurangi efisiensi kerja. Pajanan STEL tidak boleh lebih dari 15 menit dan pengulangannya tidak boleh lebih dari 4 kali pengulangan dalam sehari.
  3. Ceiling (C): pajanan terhadap pekerja, dimana tidak boleh dilewati dalam tiap waktu selama kerja.

 

4. Pengendalian

Pengendalian atau kontrol adalah upaya puncak yang ditujukan sebagai tujuan utama ahli higiene industri, menyediakan lingkungan kerja yang sehat. Penerapan higiene industri mengenal hierarki kontrol yaitu kontrol teknik (engineering), penerapan kerja, kontrol administratif, dan sebagai upaya terakhir adalah menggunakan alat pelindung diri.

 Engineering control

Kontrol ini dapat meminimalkan pajanan pada pekerja baik melalui pengurangan atau memindahkan bahaya pada sumber atau isolasi pekerja dari bahaya. Metode pengendalian ini meliputi:

  1. Menghilangkan bahan kimia beracun dan menggantinya dengan bahan kimia yang tidak beracun.
  2. Menutup proses kerja atau membatasi operasi kerja.
  3. Memasangkan sistem ventilasi baik general maupun lokal.

 

Kontrol Penerapan Kerja

Kontrol ini ditujukan untuk memperbaiki pelaksanaan suatu pekerjaan. Beberapa kontrol penerapan kerja dasar dan mudah diimplementasikan meliputi:

  1. Mengubah penerapan kerja yang sudah ada untuk mengikuti prosedur yang tepat yang dapat meminimalkan pajananselama proses produksi dan kontro peralatan.
  2. Inspeksi dan memelihara proses dan kontrol peralatan sebagai kegiatan rutin.
  3. Menyediakan pengawasan yang baik.
  4. Melarang makan, minum, merokok, mengunyah tembakau atau permen karet dan menggunakan kosmetik di tempat kerja.

 Kontrol Administratif

  1. Mengontrol pajanan terhadap pekerja dengan membuat jadwal produksi dan tugas atau keduanya dimana dapat meminimalkan tingkat pajanan,misalnya dengan menjadwalkan operasi yang menghasilkan potensi pajanan tertinggi pada saat jumlah pekerja yang hadir paling sedikit.
  2. Rotasi jadwal pekerja juga merupakan contoh kontrol administratif. Pekerja dapat dipindahkan ke lokasi kerja yang berbeda untuk menghilangkan efek kumulatif dari bahaya yang potensial

Alat Pelindung Diri

Alat pelindung diri hanya digunakan sebagai langkah terakhir dan metode kontrol sementara sampai dengan metode kontrol yang permanen di terapkan. Dalam beberapa kasus, tidak ada metode kontrol yang lebih cepat dari pada penerapan alat pelindung diri. Namun, ahli higiene industri tetap harus mencari solusi lain selama penerapan alat pelindung diri.

Beberapa jenis alat pelindung diri:

  1. Pelindung kulit: sarung tangan, baju kerja dan apron.
  2. Pelindung mata: kaca mata keselamatan, goggles, pelindung muka, dan lainnya.
  3. Pelindung telinga: plug dan ear muffs.
  4. Pelindung pernafasan: respirator penyaring/ penjernih udara (air-purifying respirator), respirator pensuplai udara (air-supplying respirator), self-contained breathing apparatus (SCBA).
  5. Pelindung lain: sepatu keselamatan, dan lain-lain.

Antisipasi, rekognisi, evaluasi dan kontrol terhadap faktor-faktor dan stres lingkungan ditujukan untuk menjamin kesehatan dan kesejahteraan pekerja. Faktor-faktor dan stres lingkungan dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu bahaya kimia, bahaya fisik, bahaya biologi dan bahaya ergonomi. Keempat bahaya tersebut akan dibahas di bawah ini.

 

salam K3-HI

www.improvementqhse.com

Open chat
Need Help?
hello, ada yang bisa kami bantu?

oh ya bapak/ibu, kami ada layanan Improvement di Proses, namanya Free Assessment Proses, dilakukan 1-2 hari, cukup dengan mengganti akomodasi Konsultannya saja, tertarik?
328 views