Kapan pilih P Chart, NP Chart, C Chart, atau U Chart dalam Statistical Process Control (SPC)? Tidak sedikit praktisi kualitas keliru memilih control chart. Akibatnya, analisis proses menjadi kurang tepat dan keputusan yang diambil pun bisa menyesatkan. Padahal, kuncinya sangat sederhana. Sebelum memilih control chart, kita hanya perlu menjawab satu pertanyaan:
Apakah kita sedang menghitung jumlah produk yang gagal, atau jumlah cacat yang ada pada produk tersebut? nah ini harus memahami defective dan defect, mari kita pelajari
DEFECTIVE: MENGHITUNG PRODUK YANG GAGAL
Defective berarti sebuah produk tidak memenuhi persyaratan sehingga dinyatakan gagal atau nonconforming. Pada konsep ini, setiap produk hanya memiliki dua kemungkinan, yaitu baik (OK) atau gagal (NG). Yang perlu diperhatikan adalah, berapa pun jumlah cacat yang dimiliki sebuah produk, produk tersebut tetap dihitung sebagai satu defective.
Ilustrasi 1: Ujian di Sekolah
Bayangkan seorang siswa mengerjakan ujian.
Siswa tersebut salah menjawab lima soal sekaligus. Apakah sekolah akan mengatakan ada lima siswa yang gagal? Tentu tidak. Yang ada hanyalah satu siswa yang gagal, meskipun kesalahannya ada lima. Prinsip inilah yang digunakan pada konsep defective.
Dalam dunia manufaktur, sebuah komponen yang memiliki tiga jenis cacat sekaligus—misalnya goresan, retak, dan ukuran tidak sesuai—tetap dihitung sebagai satu produk defective, bukan tiga.
Karena yang dihitung adalah jumlah produk yang gagal, maka control chart yang digunakan adalah:
- P Chart, apabila jumlah sampel yang diperiksa berubah-ubah.
- NP Chart, apabila jumlah sampel yang diperiksa selalu tetap.
Misalnya hari ini diperiksa 100 produk, besok 150 produk, maka gunakan P Chart. Sebaliknya, jika setiap jam selalu memeriksa 100 produk, maka NP Chart lebih sesuai.
DEFECT: MENGHITUNG JUMLAH CACAT
Berbeda dengan defective, defect berarti setiap ketidaksesuaian atau cacat dihitung satu per satu, walaupun semuanya terjadi pada produk yang sama. Satu produk bisa memiliki nol cacat, satu cacat, bahkan puluhan cacat. Semuanya tetap dihitung.
Ilustrasi 2: Mobil yang Masuk Bengkel
Bayangkan sebuah mobil mengalami beberapa kerusakan sekaligus.
- Lampu depan mati.
- Pintu tergores.
- Kaca depan retak.
Mobil tersebut tetap hanya satu mobil, tetapi memiliki tiga kerusakan. Dan dalam bisnis bengkel kita harus bayar ongkos untuk ketika kerusakan itu. Begitu pula dalam inspeksi kualitas. Sebuah panel body mobil mungkin memiliki empat titik debu cat, dua goresan kecil, dan satu penyok. Produk tersebut tetap hanya satu unit, tetapi memiliki tujuh defect.
Karena yang diamati adalah jumlah cacat, maka control chart yang digunakan adalah:
- C Chart, jika area atau kesempatan inspeksi selalu sama.
- U Chart, jika ukuran area atau jumlah unit yang diperiksa berubah-ubah sehingga yang dihitung adalah rata-rata defect per unit.
Sebagai contoh, jika setiap hari inspeksi dilakukan pada satu lembar panel mobil, maka gunakan C Chart. Namun jika suatu hari memeriksa 10 panel dan hari berikutnya 20 panel, maka gunakan U Chart karena jumlah unit inspeksi berubah.
Referensi
- NIST/SEMATECH e-Handbook of Statistical Methods
- Douglas C. Montgomery. (2020). Introduction to Statistical Quality Control (8th Edition). John Wiley & Sons. Bab 6 menjelaskan penggunaan control chart untuk atribut, termasuk konsep fraction nonconforming (P dan NP Chart) serta count of nonconformities (C dan U Chart).
- AIAG SPC Reference Manual (2nd Edition)






